liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77

Orang Miskin RI Bertambah, Shopee hingga Grab Dinilai Perlu Bakar Uang

Orang Miskin RI Bertambah, Shopee hingga Grab Dinilai Perlu Bakar Uang

Jumlah penduduk miskin di Indonesia bertambah 200 ribu orang selama Maret-September 2022. Perusahaan rintisan seperti Shopee, Tokopedia, Gojek, dan Grab dinilai perlu gencar melakukan promosi alias menghambur-hamburkan uang.

Menurut Direktur Center for Economic and Legal Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira, e-commerce seperti Shopee, Tokopedia hingga Lazada digunakan untuk melakukan promosi atau membakar uang.

Situasi ini membuat pengguna mengharapkan promosi sebelum melakukan transaksi. Tanpa diskon, pengguna bisa beralih ke platform lain “atau bahkan mengurangi pembelian,” kata Bhima kepada Katadata.co.id, Kamis (19/1).

Namun membakar uang secara terus menerus juga tidak dianjurkan. Persaingan startup harus menonjolkan inovasi layanan digital agar konsumen mendapatkan nilai tambah dan diharapkan terus bertransaksi.

Cara lain adalah dengan memiliki segmen pasar yang berbeda dan tidak menjual produk yang sama.

Bank Indonesia (BI) juga mencatat penurunan pertumbuhan transaksi e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada. Transaksi e-commerce tahun lalu sebesar Rp 476,3 triliun dengan total 3,48 miliar transaksi.

Nilai transaksi meningkat 19% secara tahunan (year-on-year/yoy), namun masih di bawah target BI sebesar Rp489 triliun.

BI menduga ada tiga hal yang menyebabkan pertumbuhan transaksi e-commerce melambat, yaitu:

1. Konsumen beralih ke transaksi offline

“Kita harus memahami bahwa e-commerce bermanfaat ketika mobilitas rendah. Jadi kami melihat kemungkinan peningkatan transaksi offline akan menyebabkan (transaksi) e-commerce menurun,” kata Deputi Gubernur BI Doni P Joewono dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (19/1).

2. Beralih ke social commerce seperti belanja di TikTok, Whatsapp hingga Facebook

3. Biaya

BI saat ini sedang mengkaji kemungkinan pengurangan transaksi di e-commerce, karena biaya transaksi melalui media sosial lebih murah. Tokopedia, misalnya, menaikkan biaya administrasi dan gratis ongkos kirim atau ongkos kirim yang dibebankan kepada penjual pada pertengahan 2022 dan Januari 2023.

Selain itu, jumlah penduduk miskin di Indonesia akan meningkat menjadi 26,36 juta jiwa pada September 2022, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Hal itu menyusul kenaikan harga BBM atau minyak pada September lalu.

Meski begitu, jumlah penduduk miskin turun 140 ribu dibanding September 2021.

Dua sumber The Information menyebut transaksi TikTok Shop di Asia Tenggara diperkirakan mencapai US$ 4,4 miliar atau sekitar Rp 66,7 triliun pada 2021. Nilai tersebut lebih kecil dari Shopee dan Lazada, serta Tokopedia di Indonesia.

“Pengeluaran pengguna (TikTok Shop) di Asia Tenggara meningkat lebih dari empat kali lipat. GMV jadi US$ 4,4 miliar,” ujar dua sumber The Information, pekan lalu (9/1).

GMV TikTok Stores di Asia Tenggara pada 2021 akan berada di bawah Shopee sebesar US$ 62,5 miliar atau Rp 899 triliun. Dengan rincian sebagai berikut:

Lazada juga mencatatkan GMV per September 2021 sebesar US$21 miliar atau sekitar Rp302 triliun. Sementara itu, pengguna aktif tahunan meningkat 1,8 kali menjadi 130 juta.

Di Indonesia, Tokopedia juga mencatatkan GTV atau Nilai Transaksi Bruto (GTV) sebesar Rp 230 triliun pada 2021. Nilainya meningkat 46% dibanding 2020.

Tokopedia menargetkan GTV tahun lalu Rp 334 triliun, atau naik 24% dibanding 2021. Sedangkan GTV tahun 2024 ditargetkan Rp 669 triliun.