liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

OJK Peringatkan Bahaya Investasi Berlebih Fintech dan Bank di AI

OJK Peringatkan Bahaya Investasi Berlebih Fintech dan Bank di AI

Investasi di sektor jasa keuangan seperti bank dan financial technology (fintech) untuk memanfaatkan artificial intelligence (AI) diprediksi mencapai US$ 204 miliar atau sekitar Rp 3.199 triliun pada 2025. Dewan Jasa Keuangan (OJK) meminta perusahaan untuk hati-hati.

Perkiraan ini didasarkan pada penelitian oleh International Data Corporaton (IDC). Tahun lalu, investasi di sektor jasa keuangan untuk teknologi AI mencapai US$ 85,3 miliar.

Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara mengatakan promotor fintech perlu memiliki kebijakan yang kuat dalam pemanfaatan teknologi canggih seperti machine learning alias pembelajaran mesin, AI, dan lainnya.

“Saya yakin mayoritas fintech menggunakan teknologi ini dalam proses bisnisnya,” kata Mirza dalam acara Closing Ceremony Indonesian Fintech Summit dan National Fintech Month 2022 di Yogyakarta, Senin (12/12).

Berdasarkan penelitian Survei AI Global McKinsey tahun ini, sekitar 50% industri jasa keuangan global menggunakan AI. Teknologi ini dinilai memberikan keunggulan dalam hal kecepatan dan akurasi.

Asosiasi fintech Indonesia juga menandatangani komitmen bersama dalam menyusun Kode Etik Kecerdasan Buatan yang Bertanggung Jawab dan Terpercaya.

“Penggunaan kode etik ini menjadi pedoman untuk menerapkan perilaku pasar dalam menghasilkan program AI yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Hal ini bertujuan untuk meminimalisir risiko yang dapat merugikan pengguna, terutama terkait dengan penyaluran dana dan pengambilan keputusan investasi.