liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77

Kredit Macet Fintech Tinggi, OJK Lihat Belum Perlu Aturan Baru

Kredit Macet Fintech Tinggi, OJK Lihat Belum Perlu Aturan Baru

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memantau 22 fintech lending, salah satunya startup TaniFund yang memiliki non-performing loan tinggi dengan 90-day default rate (TWP) sebesar 64%. Namun, OJK masih belum tertarik untuk membuat regulasi baru terkait permasalahan yang ditimbulkan oleh fintech.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK Ogi Prastomiyono menjelaskan, bisnis fintech loan telah diatur dalam POJK Nomor 10 Tahun 2022. Menurutnya, aturan ini mengatur secara ketat bisnis perusahaan teknologi terkait jasa pembiayaan.

Aturan tersebut cukup ketat, termasuk terkait pengaturan penambahan modal hingga Rp 12 miliar, kata Ogi saat ditemui di Semarang, Selasa (13/12).

Peraturan OJK atau POJK Nomor 10/POJK.05/2022 tentang Layanan Pembiayaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi mengatur pembatasan penyaluran dana dari lembaga pemberi pinjaman seperti bank, melalui peminjam, serta modal disetor minimum.

Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Teknologi Finansial OJK Tris Yulianta menjelaskan, pihaknya telah meminta perusahaan fintech yang memiliki masalah kredit macet tinggi seperti Dana Tani untuk membuat action plan. OJK juga telah melakukan pengawasan khusus terhadap fintech ini.

“Kita sekarang masuk, tim sudah siap,” kata Direktur Pengaturan, Perizinan dan Pengawasan Teknologi Keuangan OJK Tris Yulianta di Yogyakarta, Senin (12/12).

Dia menjelaskan, hasil pemeriksaan OJK akan diumumkan pada akhir bulan ini. Sebuah studi sementara menunjukkan bahwa rata-rata peminjam TaniFund adalah petani. “Beberapa petani gagal panen, tapi ada juga pemantauan dengan TaniHub yang tidak baik,” ujarnya.

Tris menjelaskan, pemeriksaan khusus TaniFund dilakukan untuk menentukan langkah terbaik bagi industri, perusahaan, dan lender alias pemberi pinjaman. “Pemeriksaan fisik ke lapangan sudah dilakukan. Belum final. Kami sedang menyusun hasilnya,” kata Tris.

Tingkat pengembalian default TaniFund (TWP 90) sekarang mencapai 64%, jauh di bawah rata-rata industri sebesar 2,9% pada bulan Oktober.

Pemberi pinjaman atau pemberi pinjaman TaniFund mengeluh bahwa dana mereka sulit untuk ditarik, sementara asuransi untuk risiko gagal bayar sulit diklaim. Faktanya, asuransi TaniFund menjamin 80% dari dana yang diinvestasikan. “Sekarang sama sekali tidak ada. Mereka juga tidak transparan soal penyaluran dana dan penghimpunan,” ujar salah satu pengguna Twitter @H1Q1S, Oktober lalu (3/10).

Hal senada disampaikan Sunjaya. “Dari kasus yang ada seperti Amartha dan TaniFund, sepertinya asuransi tidak bisa diklaim,” ujarnya, Oktober (4/10).